Monday, October 17, 2011

Jika Doamu Belum Dimakbulkan







Jika doamu belum dimakbulkan, ambillah ibroh dari satu kisah di bawah ini.

Kerana sebutir kurma, doa tertolak.

Inilah kisahnya.

Sesudah menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat menziarahi Masjidil Aqsa. Sebagai bekal di perjalanan, ia membeli sedikit kurma dari pedagang tua berhampiran Masjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma berhampiran timbangan. Kerana menyangka kurma itu terjatuh dari yang ia beli, Ibrahim mengambil dan memakannya. Setelah itu ia terus berangkat menuju Al Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah kubah Sakhra.
Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan warak yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.

"Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak kerana empat bulan yang lalu dia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua berhampiran Masjidil Haram," jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali, jadi selama empat bulan ini ibadahnya, solatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

"Astaghfirullahal adzhim" Ibrahim beristighfar.

Ia terus berkemas untuk berangkat lagi ke Mekah menemui pedagang tua penjual kurma.

Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah dimakannya.

Begitu sampai di Mekah ia terus menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. "empat bulan yang lalu saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang tua,  di mana dia sekarang ?" tanya Ibrahim.

"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya menjual kurma" jawab anak muda itu.

"Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya akan meminta halal ?".

Lantas Ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

"Begitulah." kata Ibrahim setelah bercerita,  "Engkau sebagai ahli waris orang tua itu, mahukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?".

"Bagi saya tiada masalah. Insyaallah, saya halalkan. Tapi entahlah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatakan atas nama mereka kerana mereka mempunyai hak waris yang sama dengan saya."

"Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu."

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui mereka. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada di bawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. "Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain."

"Oo, tidak.., sekarang doanya sudah makbul, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram kerana masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas."

Maka ambillah pengajaran, wahai orang-orang yang berakal.

Celik mata, celik akal, celik hati.

Secubik makanan yang dimakan, setitik air yang diminum, mungkin menjadi penyebab doa-doa terhalang.

Walau sekecil mata, walau sedikit mana.

Biarlah ianya halal.

Pada zatnya dan cara mendapatkannya.

Di dunia doa tidak dimakbulkan, di akhirat menerima balasan azab.

Bukan itu yang kita semua dambakan.

Dambaan kita, bahagia dunia dan bahagia juga di akhirat.

No comments:

Share/Bookmark