Monday, March 28, 2011

Antara Estonia Dan 'Jabal Nuh'






Membaca tulisan  ini  mengingatkan saya tentang cerita Nabi Nuh, kapal dan bukit tinggi.

Bagaimana anak Nabi Nuh a.s yang derhaka beserta orang-orang yang bersamanya yakin bahawa bukit yang tinggi itu dapat menyelamatkan mereka dari banjir besar yang sedang melanda.

Dengan iringan "Bismillahi majraha wa mursaha" belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamat diri dari cengkaman maut yang sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu. Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah itu. Pada saat itu, tanpa disadari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.

Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil puteranya:Wahai anakku! Datanglah kemari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau menjalani hukuman Allah." Kan'aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan syaitan dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang:"Biarkanlah aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidak akan dijangkau oleh air bah ini."

Nuh menjawab:"Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperolehi rahmat dan keampunan-Nya." Setelah Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincirlah ke bawah lautan air mengikut kawan-kawannya dan pembesar-pembesar kaumnya yang durhaka itu.

Dengan meraikan akal manusia dalam membuat kajian demi kajian, tetapi sesekali jangan dilupakan suatu kuasa yang Segala Maha. Dialah yang memiliki segala Maha yang mengatasi segala 'maha' milik manusia.

Manusia mungkin bebas memilih, bebas berfikir, bebas mengkaji dan segala macam 'kebebasan' lagi tetapi manusia mempunyai keterbatasan kuasa yang dimiliki.

Kuasa 'kudrat' muda, hilang apabila usia semakin meningkat dan jasad kian tua.
Kuasa pangkat dan kedudukan, hilang apabila mula bersara dari jawatan.
Kuasa sebagai manusia, akan hilang apabila ajal bertandang tiba.

Semuanya terangkum dalam satu ungkapan

"Langit dan bumi serta segala isi kedua-duanya akan menemui penghujung perjalanan."

".....Dan(ingatlah) bagi Allahlah jualah kuasa pemerintahan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya, dan kepada Allah jualah tempat kembali." (Al Maidah 18).

Razak Nordin berpesan : Dan marilah kita belajar sesuatu dari kisah Nabi Nuh a.s.  Kisah yang mungkin semakin dilupakan.

Saturday, March 26, 2011

Moammar Gadhafi Pernah Menjalani Pembedahan Plastik?







Brazilian plastic surgeon says operated on Gadhafi

SAO PAULO – It was well past midnight when the Brazilian surgeon says he was escorted deep inside a bunker in the Libyan capital.

His assignment: to shave years off Moammar Gadhafi's appearance by removing fat from his belly and injecting it into his wrinkled face. The Libyan leader also got hair plugs.

"He told me that he had been in power for 25 years at that time, and that he did not want the young people of his nation to see him as an old man," Dr. Liacyr Ribeiro recalled. "I recommended a facelift, but he refused."

The secretive four-hour procedure in 1995 was done, at Gadhafi's insistence, with local anesthesia because he wanted to remain alert. Midway through, the Libyan leader stopped to have a hamburger.

Gadhafi was worried a facelift would be too noticeable, so he opted for the less radical procedure, the plastic surgeon told The Associated Press.

"I warned Gadhafi that the effects of the operation I performed would last for about five years, that it had an expiration date after which the skin would sag and the wrinkles would reappear," Ribeiro said.

"He said he would call me if he needed me to come back," and about five years ago there was such a request, but Ribeiro had a family obligation. "They never called me again," he said.

At the time of the surgery, Gadhafi was 53, but Ribeiro said he looked at least 10 years older. A photo taken at the time shows the smiling doctor posing next to the Libyan leader, who wore a white suit, floral shirt and had pronounced wrinkles crisscrossing his face and neck.

After the procedure, "he looked like a 45-year-old man," the doctor said.

Ribeiro insists he is speaking out now only to provide insight into a man about whom little is known, and certainly not to boast.

"Gadhafi is not looking very good these days," said Ribeiro, noting that the 68-year-old leader has appeared jowly in recent appearances, his skin puffy, loose and deeply creased. "To let potential patients know that I operated on him would be counterproductive."

Gadhafi is hardly the only world leader to go under the knife.

Italian Premier Silvio Berlusconi owes his look to plastic surgery and a hair transplant — work also performed by Ribeiro, according to media reports, though the doctor refuses to confirm that. And rumors swirled about Russian leader Vladimir Putin after he appeared last October with heavy makeup covering bruises under his eyes.

A surgeon with an international reputation, the 70-year-old Ribeiro has written two books on plastic surgery and taken part in conferences around the world on the topic.

It was at one such gathering, in May 1994 in Tripoli, that Ribeiro spoke about his specialty, cosmetic breast surgery.

Afterward, a Libyan official identified as Mohamed Zaid "came up to me and said he wanted me to meet someone who Libyans love very much," Ribeiro said. "Because of my specialty, I thought he was going to introduce me to his wife."

Instead, Zaid drove Ribeiro to a house surrounded by armed guards.

"Zaid and I were taken to a library located underneath a tent set up inside the house, and there he told me that he wanted me to examine Gadhafi," Ribeiro said.

A few minutes later, the Libyan leader, wearing a long white tunic, entered the room, "shook my hand and greeted me, speaking perfect English."

"He was an extremely polite, intelligent, cordial and soft-spoken person who quickly told me what he wanted and why," Ribeiro said.

Gadhafi wanted an immediate operation, but Ribeiro needed a surgical team and the procedure was scheduled for January 1995.

It began at 2 a.m. in Gadhafi's bunker, which "had two fully equipped and very modern operating rooms, a gym and a swimming pool," Ribeiro said.

"He insisted on local anesthesia saying he wanted to remain alert," the doctor added. "He was a very calm patient."

Sao Paulo-based plastic surgeon Dr. Fabio Naccache confirmed to the AP that he was part of the team and performed a hair transplant on the Libyan leader.

About halfway through, Gadhafi said he was hungry.

"Hamburgers were brought in for all and surgery was interrupted for several minutes while we ate," the surgeon said.

Afterward, Zaid handed Ribeiro an envelope "full of U.S. dollars and Swiss francs." He would not say how much money it contained.

"All I can say is that it was more than I would charge for my services in Brazil," he said.

The doctor stayed in Tripoli for 10 days while Gadhafi recovered.

Ribeiro said he assumes Gadhafi turned to him because Libyan surgeons were either "incapable of doing what I did or too scared that he would die on the operating table."


Razak Nordin berpesan : ......................

Di Celah-Celah Jendela Sutera


Razak Nordin berpesan : ............................

Friday, March 25, 2011

Gempa Bumi Di Myanmar Menggoncangkan Utara Thailand

Myanmar quake shakes N Thailand

1 hour ago - Reuters 0:57
1383 views
A large 6.8 magnitude earthquake strikes Myanmar near the border with northern Thailand.


Razak Nordin berpesan : Apabila tiba saat ajal mereka, tidak dilewatkan dan tidak juga diawalkan walaupun sesaat.